Buka-bukaan Menpar Widiyanti di Depan Mahasiswa Harvard: Antara Lonjakan Devisa dan Tantangan Tiket Mahal

Menpar-Widiyanti-Putri-Wardhana-Forum-HISA-Universitas-Harvard-Jakarta
Menpar Widiyanti Putri Wardhana memaparkan strategi pariwisata Indonesia Tourism 5.0 di forum HISA Universitas Harvard Jakarta. Foto: Kemenpar RI

CIREBONINSIDER.COM – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana membawa narasi segar mengenai masa depan sektor pelesir Indonesia di hadapan para intelektual muda Harvard Indonesian Student Association (HISA).

​Dalam forum bertajuk “Leaders’ Meeting: Beyond Destinations”, Selasa (20/1/2026), Widiyanti tidak hanya memamerkan angka capaian, tetapi juga membedah “anatomi” tantangan pariwisata nasional yang selama ini menjadi sorotan tajam publik. Mulai dari harga tiket hingga persaingan dengan Thailand.

​Melampaui Target: Devisa Tembus US$ 18,5 Miliar

​Tahun 2025 menjadi tahun pembuktian resiliensi pariwisata Indonesia. Di hadapan mahasiswa Universitas Harvard tersebut, Menpar memaparkan data solid: kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) diproyeksikan menutup tahun dengan angka 15,34 juta kunjungan. Angka tersebut melampaui target batas atas pemerintah sebesar 15 juta.

Baca Juga:Akselerasi Transportasi Jabar: KAI-Pemprov Teken PKS, Luncurkan Kereta Kilat Pajajaran dan Wisata Jaka LalanaKementerian UMKM Targetkan 6.156 Desa Wisata Jadi Sentra Gastronomi, Siapkan KUR Rp300 T

​Lebih dari sekadar jumlah kepala, kualitas belanja wisman menunjukkan tren positif. Rata-rata pengeluaran per kunjungan naik menjadi 1.259 dolar AS, yang berujung pada proyeksi penerimaan devisa sebesar 18,53 miliar dolar AS di akhir tahun.

​”Pariwisata Indonesia bukan sekadar tentang satu destinasi, melainkan sebuah ekosistem yang terbentang dalam lapisan geografi, budaya, dan masyarakat,” ujar Widiyanti.

Ia menekankan bahwa narasi “Bali-sentris” kini bergeser ke arah pembangunan inklusif di 13 destinasi utama.

​Realitas ASEAN: Unggul Pertumbuhan, Kalah Diplomasi Kuliner?

​Secara transparan, Menpar mengakui posisi Indonesia yang saat ini menempati peringkat kelima di ASEAN dalam hal jumlah kunjungan absolut.

Ia menyoroti agresivitas tetangga seperti Thailand yang sukses besar lewat diplomasi kuliner globalnya.​Namun, ia memberikan catatan kritis terkait cara membandingkan data antarnegara.

Menurutnya, pertumbuhan Indonesia sebenarnya sangat kompetitif jika data “pelancong lintas batas singkat” atau ekskursionis (seperti yang banyak tercatat di Malaysia) dipisahkan.

​”Dengan perbandingan yang setara, pertumbuhan Indonesia adalah yang kedua tertinggi di kawasan,” tegasnya.

Baca Juga:Indramayu Cetak Sejarah Baru: Cemara Kulon Jadi Pionir Desa Wisata Ramah Lingkungan Berbasis PLTSSulap Pelabuhan Cirebon Jadi Destinasi Wisata Bahari Unggulan, Pemkot Gandeng Pelindo

​5 Isu Fundamental: Dari Tiket Mahal hingga Sampah

​Membangun pariwisata progresif memerlukan keberanian mengakui kelemahan. Menpar mengidentifikasi lima “penyakit” atau tantangan krusial yang tengah diintervensi pemerintah:

1. Konektivitas dan Harga Tiket: Isu paling sensitif. Pemerintah sedang mengupayakan penambahan armada pesawat dan meninjau regulasi harga tiket domestik agar warga lokal tidak “terasing” di negeri sendiri.

0 Komentar