Alissa Wahid: Haji 2026 Harus Humanis, Jangan Paksa Jemaah Lansia 'Melek Digital'

Alissa-Wahid-Dorong-Layanan-Haji-Humanis
Alissa Wahid kritik paksaan teknologi bagi jemaah lansia di Haji 2026. Ia dorong layanan humanis, infrastruktur sensitif gender, dan peran maksimal petugas PPIH. Foto: Kemenhaj RI

​CIREBONINSIDER.COM – Penyelenggaraan ibadah haji bukan sekadar manajemen logistik massal, melainkan puncak perjalanan spiritual yang menuntut penghormatan terhadap martabat manusia.

Menyongsong musim Haji 2026, pemerintah diingatkan agar tidak terjebak pada formalitas digital yang justru menyulitkan kelompok rentan.

​Pesan kuat ini disampaikan oleh tokoh moderasi beragama, Alissa Wahid, dalam Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (Diklat PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga:Baleg DPR Kunci Mati Aturan Dana Haji: Haram Dipakai di Luar Urusan Jemaah!Prabowo Instruksikan Haji 2026 Zero Maladministrasi, Kemenhaj Gandeng KPK dan Kejaksaan

​Memanusiakan Lansia: Teknologi untuk Petugas, Bukan Beban Jemaah

​Alissa menyoroti tren peningkatan jumlah jemaah haji lansia setiap tahunnya. Ia memperingatkan agar transformasi digital dalam ekosistem perhajian tidak berubah menjadi “tembok penghalang” bagi para orang tua.

​”Teknologi informasi itu krusial, tapi jangan dipaksakan kepada jemaah lansia. Daya tangkap mereka berbeda,” ujar Alissa. Menurutnya, biarlah teknologi menjadi domain petugas untuk mempercepat layanan, sementara jemaah tetap fokus pada ibadah.

​Putri sulung Gus Dur ini menekankan bahwa bagi banyak lansia, haji tahun 2026 mungkin menjadi perjalanan fisik terakhir mereka. Oleh karena itu, pendekatan Haji Ramah Lansia harus berbasis empati, bukan sekadar ketangkasan administratif.

​”Jangan sampai jemaah stres karena aplikasi. Biarkan teknologi bekerja di balik layar melalui tangan petugas, agar jemaah bisa meraih kekhusyukan,” tambahnya.

​Respons Kenaikan 30% Petugas Haji Perempuan

​Selain isu lansia, Alissa mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menambah kuota petugas haji perempuan hingga 30 persen pada tahun ini. Langkah ini dinilai sangat progresif mengingat kebutuhan jemaah perempuan yang spesifik.

​Namun, penambahan personel ini harus diikuti dengan perbaikan infrastruktur yang sensitif gender. Alissa mengenang pengalaman musim haji 2022, di mana minimnya fasilitas memaksa petugas melakukan improvisasi di lapangan, seperti pengaturan antrean toilet yang kurang ideal.

​”Ke depan, tidak boleh lagi ada improvisasi karena keterbatasan. Semua harus masuk dalam perencanaan sistem sejak awal, mulai dari akomodasi, ruang privasi, hingga sanitasi,” tegasnya.

Baca Juga:Transformasi Haji 2026: Kabinet Prabowo Perkuat Peran Petugas Perempuan dan Digitalisasi 'Kawal Haji'Nasib Dana Haji Khusus 8.000 USD Terkatung-katung, Kemenag Bongkar Biang Keladi 'Bottleneck'

​Meluruskan Niat: Petugas Adalah Sumber Rasa Aman

​Menutup pembekalannya, Alissa mengingatkan bahwa menjadi bagian dari PPIH Arab Saudi adalah amanah yang melampaui tugas kedinasan. Ia meminta para petugas untuk meluruskan niat sebagai pelayan tamu Allah (Dhuyufurrahman).

0 Komentar