Akselerasi Penyelamatan Pantura: KKP dan TNI AL Rampungkan Peta Teknis Tanggul Laut

KKP-TNI-AL-Tanggul-Laut
KKP bersama Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) resmi merampungkan survei Hidro-Oseanografi strategis di Teluk Jakarta dan perairan Semarang sebagai peta rencana pembangunan tanggul laut. Foto: KKP

CIREBONINSIDER.COM – Ancaman penurunan muka tanah (land subsidence) dan fenomena pesisir Utara Jawa yang terancam “tenggelam” kini direspons dengan langkah konkret.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) resmi merampungkan survei Hidro-Oseanografi strategis di Teluk Jakarta dan perairan Semarang.

​Data komprehensif ini diproyeksikan menjadi “kompas” utama bagi Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) dalam menyusun desain teknis tanggul laut (sea wall) yang presisi untuk melindungi wilayah terdampak.

Baca Juga:Libur Nataru: KKP Siaga 24 Jam di Pelabuhan, Pastikan Stok Ikan Aman di Tengah Ancaman Cuaca EkstremTarget Devisa $513 Juta, KKP Tancap Gas Indonesia Jadi Raksasa Kepiting Dunia lewat Strategi Crab Silvofishery

​Intervensi Berbasis Sains

​Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut, Kartika Listriana, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir yang rentan tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan estimasi.

Tantangan di Pantura Jawa saat ini sangat kompleks, melibatkan perpaduan antara kenaikan muka air laut global dan penurunan tanah yang masif di kota-kota besar.

​”Kondisi ini menuntut intervensi strategi yang berbasis data ilmiah. Hasil survei ini akan menentukan presisi desain dan ketahanan struktur tanggul laut terhadap dinamika laut yang ekstrem,” ujar Kartika dalam keterangannya di Jakarta.

​Detail Teknis: Menjamin Ketahanan Struktur

​Survei yang telah dilaksanakan sejak akhir 2025 ini mencakup serangkaian tahapan pengolahan data ketat sesuai standar internasional.

Komandan Pushidrosal, Budi Purwanto, menjelaskan bahwa TNI AL mendukung penuh Proyek Strategis Nasional (PSN) ini melalui pengumpulan data batimetri (pemetaan kedalaman) dan geofisika.

​Parameter kunci yang dihasilkan dari kolaborasi ini meliputi:

– ​Pemodelan Hidrodinamika: Memetakan pola arus dan gelombang yang menghantam pesisir untuk menguji daya tahan struktur.

– ​Analisis Transportasi Sedimen: Memastikan pembangunan tanggul tidak memicu dampak lingkungan atau kerusakan ekosistem di wilayah lain.

Baca Juga:Lewat TMMD, TNI dan Pemkab Cirebon Kolaborasi Bangun Akses Jalan untuk Warga Desa SendePj Wali Kota Ikut Tabur Bunga HUT Ke-79 TNI AL di Laut Cirebon

– ​Data Batimetri Presisi: Memberikan gambaran akurat dasar laut sebagai landasan fondasi infrastruktur yang kokoh.

​Langkah ini dianggap krusial untuk meminimalkan risiko kegagalan struktur serta dampak sosial-lingkungan yang mungkin timbul selama proses konstruksi.

​Urgensi Mitigasi Bencana

​Kawasan Teluk Jakarta dan Semarang diidentifikasi sebagai dua titik dengan kerentanan tertinggi terhadap banjir rob dan erosi.

Deputi I Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Sawarendro, mengapresiasi langkah cepat KKP dan TNI AL ini sebagai akselerasi yang mendesak.

0 Komentar