CIREBONINSIDER.COM – Kota Cirebon berhasil mengukuhkan dominasinya sebagai motor penggerak ekonomi baru di koridor Jawa Barat.
Berkat sinkronisasi kebijakan moneter dan fiskal yang presisi, “Kota Udang” mencatatkan performa pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata-rata provinsi maupun nasional pada pengujung 2025.
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi tahunan Kota Cirebon pada triwulan III-2025 melesat di angka 5,26% (yoy).
Baca Juga:Bosan Cirebon Cuma Jadi Pajangan Sejarah, Effendi Edo Desak Revolusi 'Living Heritage'Ringankan Beban Warga, Pemkot Cirebon Godok Diskon Tunggakan PBB hingga 50 Persen
Pencapaian ini mengungguli laju pertumbuhan Jawa Barat (5,20%) dan nasional (5,04%). Keberhasilan ini menjadi validasi atas efektivitas strategi “mesin ganda” yang mengombinasikan stabilitas ketahanan pangan dan transformasi digital masif.
Transisi Kepemimpinan: Menjaga Estafet Pertumbuhan
Keberlanjutan tren positif ini kini berada di bawah kepemimpinan Wihujeng Ayu Rengganis, yang resmi menjabat sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon menggantikan Jajang Hermawan pada Rabu (14/1/2026).
Pergantian nakhoda ini dinilai strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi menghadapi tantangan global tahun 2026.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan apresiasi tinggi terhadap progresivitas Cirebon.
Ia menyoroti keberhasilan daerah ini dalam menjinakkan inflasi di level 2,86%—sebuah angka yang berkorelasi positif dengan penurunan tingkat kemiskinan terbuka menjadi 6,29% serta kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ke posisi 78,99.
”Performa ekonomi Cirebon sangat impresif. Fokus ke depan adalah memperkuat kedaulatan pangan dan memperdalam penetrasi digitalisasi. Capaian 13,2 juta transaksi QRIS hingga November 2025 menjadi bukti konkret kesiapan ekosistem digital di sini,” tegas Destry.
Inovasi WADULI: Instrumen Penjinak Inflasi
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, mengungkapkan bahwa kunci stabilitas harga terletak pada kolaborasi taktis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Terdapat tiga pilar utama yang menjadi “jangkar” stabilitas harga di masyarakat:
Baca Juga:Optimalkan APBD 2026, Pemkot Cirebon Alokasikan SiLPA Bebas untuk Revitalisasi TPA KopiluhurMenuju Satu Data 2026: Pemkab Cirebon Kunci 1.060 Data Sektoral demi Kebijakan Presisi
– WADULI (Warung Peduli Inflasi): Berperan sebagai garda terdepan pemantauan dan stabilisasi harga komoditas pokok.
– Pasar Murah Keliling: Bentuk intervensi langsung untuk memutus rantai distribusi yang panjang di pemukiman warga.
– GNPIP (Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan): Optimalisasi rantai pasok pangan lokal agar lebih efisien.
”Kami berkomitmen agar pertumbuhan ini bersifat inklusif. Melalui TP2DD (Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah), penggunaan QRIS akan terus diperluas untuk memastikan tata kelola retribusi dan pajak daerah yang lebih akuntabel dan transparan,” ujar Effendi.
