Pertama dalam Sejarah RI, Harga Pupuk Subsidi Turun 20% Tanpa Beban APBN, Zulhas: Ini Terobosan Fenomenal

Rakortas-Pangan
Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kanan) dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan bersama Mentan dan Mendes di Jakarta, Senin (12/1/2026). Foto: Humas Kementan

CIREBONINSIDER.COM​ – Kabar revolusioner datang dari sektor agraria tanah air. Pemerintah secara resmi menetapkan kebijakan penurunan harga eceran tertinggi (HET) seluruh jenis pupuk bersubsidi sebesar 20 persen.

Langkah ini mencetak sejarah baru karena dilakukan tanpa menambah beban alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

​Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyebut kebijakan ini sebagai capaian luar biasa dalam tata kelola pangan nasional. Hal itu disampaikan usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan di Jakarta, Senin (12/1/2026).

Baca Juga:Suntikan Rp50 Triliun Non-APBN, Amran Sulaiman Targetkan 5 Pabrik Pupuk Raksasa Rampung sebelum 2029Heboh! Mentan Klaim Pupuk Indonesia Raup Laba Rp7,5 T meski Harga Pupuk Subsidi Dipangkas 20 Persen

Zulhas memberikan apresiasi khusus atas kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam merombak efisiensi pupuk.

​”Sepanjang sejarah pemerintahan Republik Indonesia, baru kali ini harga pupuk bersubsidi turun signifikan hingga 20 persen. Ini adalah terobosan yang benar-benar memihak petani,” ungkap Zulhas dengan antusias.

​Anomali Positif: Harga Anjlok di Tengah Tantangan Global

​Berbeda dengan kebijakan subsidi pada umumnya yang kerap memicu pembengkakan anggaran, kolaborasi Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) justru menempuh jalur Efisiensi Sistem.

​Berikut adalah rincian penurunan harga yang mulai berlaku secara nasional:

– ​Pupuk Urea (Kemasan 50 Kg): Semula Rp112.500, kini turun drastis menjadi Rp90.000.

– ​Cakupan Kebijakan: Penurunan 20 persen berlaku merata untuk seluruh varian pupuk bersubsidi lainnya.

​”Anggaran subsidi tetap, tapi sistem dan regulasinya kita benahi secara total. Penyalurannya kini lebih transparan dan tepat sasaran. Inilah esensi pembangunan yang efektif,” imbuh Zulhas.

​Transformasi ‘Market to Market’ & Ambisi 7 Pabrik Baru

​Salah satu kunci di balik efisiensi ini adalah pergeseran skema industri dari cost plus menjadi market to market. Perubahan strategi ini terbukti ampuh memangkas ongkos operasional yang selama ini membebani harga di tingkat petani.

Baca Juga:HET Pupuk Subsidi 5 Jenis Turun 20 Persen, Urea Jadi Rp1.800/Kg, Kementan Siap Cabut Izin Kios CurangEndang Thohari Blusukan 5 Jam ke Pelosok: Petani Cianjur Teriak Pupuk dan Infrastruktur Rusak

​Efisiensi ini juga memberikan ruang bagi ekspansi industri. Pemerintah menargetkan pembangunan tujuh pabrik pupuk baru dalam lima tahun mendatang untuk menjamin ketersediaan pasokan jangka panjang.

​”Dengan model seperti ini, Indonesia akan melesat. Petani meraih untung lebih besar karena modal produksi turun, sementara industri pupuk kita semakin kompetitif,” tegas Menko Pangan.

0 Komentar