CIREBONINSIDER.COM – Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, melontarkan pernyataan strategis mengenai reposisi Indonesia di panggung global.
Ia menyebut pusat gravitasi kepemimpinan dunia Islam kini mulai berpindah ke Indonesia, menyusul instabilitas berkepanjangan yang menyelimuti kawasan Timur Tengah.
Narasi besar ini disampaikan Menag saat berdiskusi dengan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 1990 di Kantor Kemenag, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Baca Juga:Nasib Dana Haji Khusus 8.000 USD Terkatung-katung, Kemenag Bongkar Biang Keladi 'Bottleneck'Awas Bumerang Regulasi! Kemenag Rilis 4 Pedoman Pendidikan Inklusif, Status Guru Pembimbing Khusus Digugat
Diplomasi “Cantik” di Tengah Geopolitik yang Rapuh
Nasaruddin Umar memberikan bedah kasus terkait dinamika di Iran, Arab Saudi, Yaman, Suriah, hingga Lebanon yang sarat konflik. Kondisi ini, menurutnya, membuat dunia Islam membutuhkan “kompas” baru yang lebih stabil.
”Posisi Indonesia sangat cantik dan strategis. Kita berada di titik keseimbangan dalam berhubungan dengan Amerika Serikat, China, maupun negara-negara Timur Tengah. Diplomasi inilah yang membuat posisi tawar kita sangat kuat,” ungkap Nasaruddin.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Kemenag kini memainkan peran di balik layar dalam menyusun materi pemikiran strategis untuk Presiden Prabowo Subianto di berbagai forum internasional.
Hal ini menegaskan bahwa Kemenag tidak hanya mengurus persoalan domestik, tapi juga menjadi motor “Diplomasi Peradaban”.
Revolusi Tata Kelola Dana Umat
Selain manuver global, Menag juga menggulirkan gagasan transformatif terkait kemandirian ekonomi umat. Ia berencana menyatukan tata kelola dana sosial keagamaan dalam satu pintu yang terintegrasi.
Langkah ini mencakup penguatan sistem pada sektor:
-Zakat, Infak, dan Sedekah- Wakaf Produktif- Dana Kurban dan Filantropi Keagamaan
”Jika potensi dana umat yang masif ini dikelola dengan sistem yang kokoh dan transparan, kita memiliki instrumen yang sangat konkret untuk mengentaskan kemiskinan secara nasional,” tambahnya.
Baca Juga:Tebar 100.000 Benih Nilem di Sungai Cijejeng, JAMAN Tanamkan Ekoteologi sejak Dini untuk Kedaulatan PanganPrabowo ke Siswa Sekolah Rakyat: Cintai Orang Tuamu, Cium Kaki Ibumu
Intelektual UIN Jakarta Jadi Mitra Strategis
Transformasi besar ini diakui Menag tidak bisa dijalankan sendiri oleh birokrasi. Ia menyambut hangat komitmen Alumni UIN Jakarta Angkatan 1990 sebagai mitra intelektual dan moral.
Para alumni yang kini tersebar di berbagai sektor profesional menyatakan kesiapannya menyumbangkan ide serta jaringan untuk mendukung akselerasi program Kemenag.
”Ini bukan sekadar mempertahankan eksistensi kementerian, melainkan upaya kolektif memperkuat peran Indonesia dalam sejarah peradaban Islam dunia,” tutup Menag.(*)
