Perangi Mafia Pangan, Mentan Amran Sita 133 Ton Bombay Ilegal Terindikasi Bawa Bakteri Patogen

Amran Sulaiman
Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Foto: dok kementerian pertanian.

CIREBONINSIDER.COM – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menabuh genderang perang terhadap praktik mafia pangan.

Didampingi aparat penegak hukum (APH), Mentan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sebuah gudang di Semarang Utara, Jawa Tengah, dan berhasil mengamankan sedikitnya 133,5 ton bawang bombay ilegal yang diduga kuat masuk melalui jalur penyelundupan.

​Sebanyak 6.172 karung komoditas tanpa dokumen karantina resmi tersebut langsung disita di tempat.

Baca Juga:Target 1.000 Kampung Nelayan: Strategi Prabowo Ciptakan Lapangan Kerja dan Kedaulatan ProteinAkselerasi Swasembada Pangan: Polresta Cirebon Kelola 300 Hektare Lahan Jagung

Amran menegaskan bahwa tindakan tegas ini bukan sekadar urusan kebocoran pajak, melainkan upaya preventif membentengi kedaulatan hayati dan ekosistem pertanian nasional.

​Ancaman “Bioterorisme” dan Krisis Ekologis

​Dalam sidak tersebut, Mentan menyoroti risiko fatal di balik masuknya komoditas tanpa prosedur karantina. Bawang-bawang ilegal tersebut terindikasi membawa bakteri patogen yang dapat memicu wabah penyakit tumbuhan di lahan pertanian lokal.

​”Ukurannya bukan pada tonase. Satu ton atau sejuta ton, bahayanya sama jika membawa penyakit. Ini adalah soal proteksi ekosistem kita,” tegas Amran di Semarang, Sabtu (11/1).

​Ia juga mengingatkan memori kelam wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat melumpuhkan sektor peternakan nasional.

“Belajarlah dari sejarah. Satu individu terinfeksi bisa menularkan ke jutaan lainnya. Kerugiannya bukan hanya angka di kertas, tapi petani kita bisa kehilangan ratusan triliun rupiah. Itu ancaman nyata,” imbuhnya.

​Dampak Psikologis: Ancaman terhadap Mental Swasembada

​Lebih dari sekadar kerugian materi, Amran menjelaskan bahwa infiltrasi barang ilegal menghancurkan moral petani yang tengah dipacu untuk mencapai swasembada pangan.

​Menurutnya, ada sekitar 160 juta jiwa yang menggantungkan hidup pada sektor agraris. “Sangat tidak adil jika kita mengorbankan hajat hidup 100 juta lebih rakyat hanya untuk memperkaya 10 atau 20 oknum. Tidak ada ruang bagi mereka,” cetusnya dengan nada tegas.

Baca Juga:Suntikan Rp50 Triliun Non-APBN, Amran Sulaiman Targetkan 5 Pabrik Pupuk Raksasa Rampung sebelum 2029Strategi Mentan Amran Sulaiman Ubah Wajah Pertanian Indonesia: Dari Proyek ke Skala Bisnis Global

​Ia memberikan ilustrasi tajam: rumor masuknya satu ton beras impor ilegal saja sudah mampu meruntuhkan mental 29 juta petani padi. Jika petani kehilangan gairah produksi, negara akan terjerumus dalam ketergantungan impor yang permanen.

​Perintah Tegas: Bedah Jaringan Hingga ke Akar

​Demi memberikan efek jera yang masif, Mentan menginstruksikan dukungan penuh dari Polisi Militer (PM) dan jajaran Kepolisian untuk melakukan investigasi menyeluruh.

0 Komentar