Emas Cair dari Dapur: Cara Warga Indramayu Ubah Jelantah Jadi Saldo Tabungan

Minyak-Bekas-Jelantah
Minyak goreng bekas pakai atau jelantah kini bertransformasi "emas cair" yang mampu menjadi saldo tabungan warga Indramayu melalui jaringan Bank Sampah. Foto: Ilustrasi/Pixabay.com

CIREBONINSIDER.COM – Limbah dapur yang biasanya berakhir di saluran air kini punya kasta baru di Kabupaten Indramayu.

Bukan lagi sekadar sisa penggorengan yang memperkeruh drainase, minyak goreng bekas pakai atau jelantah kini bertransformasi menjadi “emas cair” yang mampu menggemukkan saldo tabungan warga melalui jaringan Bank Sampah.

​Langkah ini merupakan manifestasi nyata dari ekonomi sirkular. Pemerintah Kabupaten Indramayu tidak hanya bicara soal kebersihan, tapi juga tentang bagaimana membangun kemandirian finansial berbasis kelestarian lingkungan.

Baca Juga:Harga Minyak Dunia Naik, CORE: Berdampak pada Kebijakan Moneter Global, Termasuk di IndonesiaGanti Sawit Jadi Gedong Gincu, Bupati Imron Pastikan Lahan 6,5 Hektare di Pasaleman Dialihkan

​Ancaman Tersembunyi di Balik Wajan

​Membuang jelantah ke tanah atau wastafel bukan sekadar masalah estetika. Secara teknis, jelantah yang meresap ke bumi akan menutupi pori-pori tanah, memutus sirkulasi oksigen, dan melumpuhkan mikroorganisme penyubur lahan.

Di saluran air, jelantah yang membeku berisiko membentuk fatberg—gumpalan lemak raksasa yang menyumbat drainase dan memicu banjir perkotaan.

​“Kami terus mendorong kesadaran kolektif bahwa limbah rumah tangga, jika dikelola secara bertanggung jawab, justru akan berbalik memberikan manfaat ekonomi,” ungkap Intan, staf Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Indramayu, Rabu (7/1/26).

​Bank Sampah Rumah Hijau: Mengonversi Limbah Menjadi Aset

​Di Kecamatan Sindang, Bank Sampah Rumah Hijau muncul sebagai pionir yang memperlakukan jelantah layaknya komoditas bursa. Berikut adalah potret produktivitas mereka:

– ​Volume Serapan: Rata-rata mengamankan 63 kilogram jelantah saban bulan.

– ​Valuasi Ekonomi: Jelantah dihargai Rp4.000 per kilogram.

– ​Mekanisme Nasabah: Saldo terkumpul secara digital dan dapat dicairkan setiap enam bulan atau saat mencapai limit Rp50.000.

​Strategi mereka juga mencakup skema “jemput bola”. Tidak hanya menunggu warga datang, tim ini menyasar mitra strategis seperti pedagang kaki lima dan sektor UMKM kuliner dengan volume pengambilan masif, biasanya di atas 20 kilogram per ritase.

​Jembangan Jaya: Skema Mikro yang Menyentuh Akar Rumput

​Berbeda dengan Sindang, Bank Sampah Jembangan Jaya di Kecamatan Lemahabang menerapkan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian warga lokal.

Baca Juga:Kopdes Merah Putih Resmi Kelola Tambang dan Sawit, Kemitraan Strategis GP AnsorB50 RI: Setop Impor Solar 2026, Siap 'Perang' Harga Sawit Global demi Nilai Rp1.000 T

Meski volumenya lebih ramping—sekitar 10 hingga 15 liter per bulan—model konversinya sangat praktis.​Warga mendapatkan Rp3.000 untuk setiap botol ukuran 600 ml yang mereka setorkan.

0 Komentar