Suntikan Rp50 Triliun Non-APBN, Amran Sulaiman Targetkan 5 Pabrik Pupuk Raksasa Rampung sebelum 2029

Amran Sulaiman
Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Foto: dok kementerian pertanian.

​CIREBONINSIDER.COM – Pemerintah Indonesia mulai mengakselerasi kemandirian pangan nasional melalui proyek strategis pembangunan tujuh pabrik pupuk baru.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa lima dari tujuh pabrik tersebut ditargetkan beroperasi sebelum tahun 2029 guna menjamin stabilitas pasokan nutrisi tanaman bagi petani di seluruh Indonesia.

​Kepastian ini disampaikan langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam agenda Panen Raya di Karawang, Jawa Barat, Rabu (07/01/2026).

Baca Juga:Strategi Mentan Amran Sulaiman Ubah Wajah Pertanian Indonesia: Dari Proyek ke Skala Bisnis GlobalMentan Amran Instruksikan Satgas Pangan Sikat Penimbun dan Pelanggar HET Nataru!

Momentum ini mempertegas bahwa swasembada pangan bukan sekadar target politik, melainkan peta jalan struktural yang sedang dieksekusi secara nyata.

​Inovasi Pendanaan: Mandiri Tanpa Beban Negara

​Aspek paling signifikan dari proyek ini adalah skema pendanaan yang mandiri. Mentan Amran menggarisbawahi bahwa pembangunan infrastruktur raksasa ini dirancang tanpa menyedot anggaran negara (APBN).

​”Pembangunan tujuh pabrik ini dilakukan tanpa memberikan beban finansial bagi pemerintah, Bapak Presiden,” tegas Amran di hadapan ribuan petani dan penyuluh.

​Proyek senilai Rp50 triliun ini merupakan hasil nyata dari reformasi tata kelola pupuk. Transformasi strategi dari subsidi di sektor hilir menuju penguatan di sektor hulu terbukti berhasil menciptakan efisiensi anggaran negara hingga Rp10 triliun.

​Modernisasi Teknologi: Pangkas Biaya Produksi Hingga 50%

​Urgensi revitalisasi ini dipicu oleh inefisiensi pabrik-pabrik tua yang masih beroperasi. Amran memaparkan perbedaan kontras dalam penggunaan bahan baku gas sebagai komponen biaya terbesar dalam produksi pupuk:

– ​Pabrik Konvensional: Konsumsi gas mencapai 43% dari total biaya produksi.

– ​Pabrik Modern: Hanya memerlukan alokasi gas sekitar 22–23%.

​”Adopsi teknologi baru adalah kunci untuk menekan biaya produksi secara signifikan. Dengan efisiensi ini, harga pupuk akan lebih kompetitif dan ketersediaannya jauh lebih terjamin bagi petani,” jelas Mentan.

​Proyeksi Kinerja: Laba Melejit, Volume Meningkat

​Revitalisasi ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan barang, tetapi juga kesehatan finansial BUMN terkait. Berkat efisiensi sistem yang diinisiasi Kementan, biaya produksi berhasil dipangkas sebesar 26%.

​Berikut adalah proyeksi dampak operasional dan finansial hingga 2029:

– ​Laba PT Pupuk Indonesia (2026): Diproyeksikan menyentuh Rp2,5 Triliun.

– ​Target Total Keuntungan: Mencapai Rp7,5 Triliun.

– ​Peningkatan Volume Pupuk Subsidi: Tambahan 700 Ribu Ton secara bertahap hingga 2029.

0 Komentar