CIREBONINSIDER.COM – Menjelang fajar usia dua abad Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 2026, sebuah kado istimewa lahir dari rahim Pesantren Lirboyo, Kediri, Rabu (25/12/2025).
Forum konsultasi tingkat tinggi tersebut resmi menyepakati islah (perdamaian) antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
Kesepakatan ini sekaligus mengakhiri “perang dingin” yang sempat menghangat di pucuk pimpinan organisasi selama dua bulan terakhir.
Baca Juga:Belajar dari 'Tamparan' Medsos, Islah Lirboyo Jadi Titik Balik Marwah PBNUHasil Pertemuan Lirboyo: Syuriyah dan Mustasyar PBNU Putuskan Muktamar Ke-35 Digelar Sesingkatnya
Namun, di balik jabat tangan di Lirboyo, muncul sosok KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) sebagai “jangkar spiritual” yang meredam tensi dari Rembang.
Diplomasi Rembang: Menyiapkan Karpet Merah Islah
Tiga hari sebelum pertemuan Lirboyo, tepatnya Minggu (22/12), Gus Baha menggelar Silaturahmi Kebangsaan di LP3IA, Kragan, Rembang. Pertemuan ini menjadi upaya “pendinginan” suasana secara kultural melalui diplomasi meja makan yang khas.
Dalam forum tersebut, Gus Baha meletakkan fondasi filosofis bahwa stabilitas NU adalah harga mati. Ia mengingatkan bahwa organisasi sebesar NU tidak boleh goyah hanya karena miskomunikasi administratif atau ego sektoral.
”Nabi itu dakwahnya mengajak, bukan mengejek. Kalau di media sosial isinya cuma saling telanjangi aib, itu namanya bukan pengamat, tapi orang kurang kerjaan yang kehilangan sanad adab,” ujar Gus Baha dengan logika fikihnya yang santai namun menukik.
Melawan “Tamparan” Algoritma dan Pengamat Amatir
Konflik internal ini menjadi ujian berat karena terjadi di era disrupsi. Media sosial dan konten podcast sempat menjadi medan tempur “pengamat amatir” yang justru memperkeruh suasana.
Katib Aam PBNU, Prof. Dr. KH Mohammad Nuh, menyebut dinamika ini sebagai cermin tantangan literasi digital. Di sinilah narasi Gus Baha hadir sebagai penawar, menyoroti rendahnya Digital Civility Index (DCI) di Indonesia yang kerap mengabaikan adab.
”Di abad kedua nanti, NU harus tetap waras. Jangan sampai HP-mu lebih pinter daripada nuranimu,” tegas Gus Baha. Pesan ini menjadi pengingat agar warga Nahdliyin tidak terjebak dalam algoritma yang memprovokasi perpecahan.
Baca Juga:5 Risalah Babakan Ciwaringin Hasil Bahtsul Masail Cirebon soal Kepemimpinan PBNURedam Gejolak, PBNU Pertimbangkan Seruan Said Aqil dan Yenny Wahid Soal Tambang
Hasil Konkret: Muktamar Ke-35 dan Kebesaran Jiwa
Pertemuan Lirboyo yang dihadiri para “paku bumi” NU seperti KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, dan KH Nurul Huda Djazuli, membuahkan tiga poin krusial:
