Tantangan ganda dimaksud adalah menjaga marwah internal sekaligus membentengi jamaah dari infiltrasi ideologi radikal yang kerap “menunggangi” kegaduhan di media sosial.
Hal ini selaras dengan pesan KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam forum Silaturahmi Kebangsaan bersama BNPT di Rembang (22/12).
Gus Baha menegaskan bahwa dialog dan Islam Wasathiyah (moderat) adalah kunci menghadapi ekstremisme. Di ruang digital, jika dialog absen, maka yang tersisa hanyalah penghakiman sepihak.
Baca Juga:Hasil Pertemuan Lirboyo: Syuriyah dan Mustasyar PBNU Putuskan Muktamar Ke-35 Digelar Sesingkatnya5 Risalah Babakan Ciwaringin Hasil Bahtsul Masail Cirebon soal Kepemimpinan PBNU
Momentum Penjaringan Kembali Marwah
Islah Lirboyo menjadi momentum bagi PBNU untuk “cuci muka” setelah dihantam polemik berkepanjangan.
Dengan kesepakatan menggelar Muktamar Ke-35 secara bersama-sama, NU mengirimkan pesan kuat ke publik: bahwa organisasi ini mampu menyelesaikan masalah paling rumit sekalipun dengan arif.
Pekerjaan rumah terbesar NU menuju usia dua abad bukan lagi soal perbedaan pendapat di level elite. Melainkan bagaimana memastikan 167 juta pengguna internet di Indonesia, khususnya nahdliyin, tidak mudah masuk dalam “jebakan digital” yang dapat merusak tatanan kebangsaan.(*)
