CIREBONINSIDER.COM – Pemerintah Kabupaten Cirebon secara tegas menyatakan komitmen untuk melindungi nilai sakral dari kekayaan budaya tradisional daerah.
Hal ini menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan Cirebon Katon Festival 2025. Tujuannya, menjaga tradisi agar tidak tergerus oleh komersialisasi berlebihan di tengah pengembangan sektor pariwisata.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Amin Mughni, menekankan bahwa sinergi budaya dan pariwisata membutuhkan tata kelola yang bijaksana agar warisan leluhur dapat menjadi modal kuat pembangunan yang berkelanjutan.
Baca Juga:Lawan Gempuran AI: Festival Literasi Cirebon 2025 Genjot Literasi Digital untuk Cirebon Setara 2029Lawan Stigma Negatif, Ribuan Massa Gelar Petisi Dukungan di Santri Land Festival Tangsel 2025
Komitmen Menjaga Esensi Budaya di Tengah Perkembangan Zaman
Dalam sambutannya di Area Uji Kelayakan Kendaraan Bermotor (KIR) Weru Lor, Sabtu (6/12), Amin Mughni menjelaskan bahwa festival yang mengusung tema ‘Ekspresi Budaya Tradisional dengan Sinergi Pariwisata’ ini relevan dengan tantangan perkembangan zaman.
“Kita berkumpul untuk merayakan kekayaan Kabupaten Cirebon akan pesona pariwisata, budaya, dan tradisi yang menjadi kebanggaan kita bersama,” ujar Amin.
Ia menyebut, kekayaan seni, tradisi, serta keragaman budaya Cirebon bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi merupakan aset berharga yang harus dilestarikan.
Ekspresi budaya tersebut, menurutnya, hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari pertunjukan, upacara adat, kerajinan, hingga kuliner khas yang telah berabad-abad membentuk karakter daerah.
Budaya sebagai Pengalaman Autentik Wisatawan
Amin juga menjelaskan pergeseran tren pariwisata global. Wisatawan saat ini tidak lagi sekadar mencari keindahan alam, melainkan mencari pengalaman autentik, cerita budaya, dan keunikan lokal.
“Tren saat ini menunjukkan bahwa keberagaman tradisi Cirebon menjadi potensi besar bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya. Artinya, ekspresi budaya bukan hanya warisan, tapi modal ke depan untuk pengembangan wisata,” tegasnya.
Untuk memaksimalkan potensi ini, ia menggarisbawahi perlunya keseimbangan dalam implementasi.
“Sinergi budaya dan pariwisata membutuhkan tata kelola yang baik. Nilai sakral dalam tradisi harus tetap dijaga, agar tidak hilang oleh komersialisasi yang berlebihan,” tambahnya, memberikan penekanan pada inti kritis dari kebijakan pemerintah daerah.
Baca Juga:Pemkab Cirebon Luncurkan Katon Siaga 112, Untuk Apa? Simak Penjelasan Wabup JigusFKSM 2025: Kementerian Kebudayaan Sukses Ubah Gudang Pelabuhan Cirebon Jadi Ruang Seni Publik
Wujud Nyata Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Amin menyebut penyelenggaraan Cirebon Katon Festival 2025 merupakan wujud komitmen pemerintah daerah dalam mempromosikan dan melestarikan kekayaan budaya.
