CIREBONINSIDER.COM— Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar secara tegas mendorong Indonesia bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen utama gagasan Islam global.
Momentum ini, menurut Menag, muncul setelah sikap vokal Presiden Prabowo Subianto terkait perdamaian di Gaza menuai perhatian internasional dan ditindaklanjuti banyak negara Muslim.
Menag Nasaruddin bahkan secara spesifik meminta agar keberanian sikap Presiden tersebut segera diisi dengan muatan konseptual dan pedoman akademik. Hal ini penting untuk memperkuat landasan gagasan Indonesia di panggung dunia, mencegah ide tersebut ‘dipanen’ negara lain.
Baca Juga:Tancap Gas! Prabowo Perintahkan Kemenag Bentuk Ditjen Pesantren, Pisah Total dari PendisPresiden Prabowo Restui Ditjen Pesantren Kemenag, Ini Tiga Tujuan Strategisnya
Sorotan Dunia pada Peran Indonesia
Dalam pidato kuncinya di Konferensi Internasional Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Rabu (26/11), Menag Nasaruddin Umar menyoroti peningkatan atensi dunia terhadap peran Indonesia.
Ia menekankan bahwa posisi penting Indonesia saat ini diciptakan oleh sikap vokal Presiden Prabowo terhadap isu-isu krusial, seperti krisis kemanusiaan di Gaza.
“Indonesia saat ini memiliki posisi penting karena Presiden kita, Pak Prabowo, menjadi perhatian internasional. Deklarasi beliau ditindaklanjuti hampir di semua negara Muslim. Kita jangan sampai hanya menjadi konsumen atas pemikiran-pemikiran mereka (negara Muslim Timur Tengah), justru kita harus menjadi produsen,” tegas Menag.
Mendesak Konseptualisasi Pemikiran ala Prabowo
Menag lantas mendorong akademisi dan pemikir Islam di Indonesia untuk segera menyusun muatan konseptual dan pedoman akademik dari pernyataan Presiden Prabowo.
Tujuannya adalah agar gagasan yang dilempar Presiden dapat diterjemahkan secara komprehensif di level global dan memiliki landasan yang kuat.
“Untuk menjadi produsen pemikiran ala Pak Prabowo, kita perlu memberikan pedoman dan muatan untuk menerjemahkan pernyataan-pernyataan beliau di luar negeri,” ujarnya.
Kementerian Agama (Kemenag), lanjut Menag, bergerak proaktif mengisi ruang-ruang konseptual ini. Ia khawatir gagasan Presiden justru dipanen dan dikonsepkan lebih dulu oleh negara lain.
Baca Juga:Wakaf Produktif Kemenag Sasar Kemiskinan Ekstrem, Cirebon Jadi Percontohan NasionalPelayanan Haji Cirebon Menggantung, Kemenag Waspada SOTK Baru Belum Jelas
“Kita ingin menjadi konseptor dan produsen gagasan, sementara negara lain menjadi pengguna. Pak Prabowo tentu tidak mungkin memerinci semuanya, kitalah yang harus mengisi ruang-ruang itu,” jelasnya. “Dengan demikian, pernyataan Presiden akan memiliki landasan akademik, konseptual, dan operasional yang kuat,” tambahnya.
